Materi Masyarakat Multikultural

Pengertian Masyarakat Multikultural (Materi Pelajaran Sosiologi Kelas 11)

Pengertian Masyarakat Multikultural (Materi Pelajaran Sosiologi Kelas 11)
Pengertian Masyarakat Multikultural (Materi Pelajaran Sosiologi Kelas 11)
Pengertian Masyarakat Multikultural
a. Pengertian Masyarakat Multikultural Menurut Furnival 
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri atas 2 atau lebih komunitas (kelompok) yang secara kultural dan ekonomi terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda antara yang satu sama lainnya.
Menurut ilmuan ini, berdasarkan konfigurasi dan komunitas etnik dibedakan menjadi 4 kategori yaitu:
1). Masyarakat majemuk dgn kompetisi seimbang.
  • Adalah masyarakat majemuk yang tersusun oleh sejumlah komunitas/ etnik yang memiliki kekuatan kompetitif tidak yang kurang lebih seimbang.
2). Masyarakat majemuk dgn mayoritas dominan
  • Adalah masyarakat majemuk yang tersusun oleh sejumlah komunitas etnik dgn kekuatan kompetitif lebih besar dari pada kelompok yang lainnya. dgn kata lain bahwa suatu kelompok etnis mayoritas mendominasi kompetisi politik atau ekonomi sehingga posisi kelompok-kelompok yang lain menjadi lebih kecil.
3). Masyarakat mejemuk dgn minoritas dominant.
  • Adalah suatu masyarakat di mana satu kelompok etnik minoritas memilili keunggulan kompetitif yang luas sehingga mendominasi kehidupan politik atau ekonomi masyarakat.
4). Masyarakat majemuk dgn fragmentasi.
  • Adalah masyarakat yang terdiri dari sejumlah kelompok etnik, namun semuanya dalam jumlah yang kecil sehingga tidak ada satu kelompok pun yang memiliki posisi politik atau ekonomi yang dominant terhadap yang lainnya.
c. Pengertian Masyarakat Multikultural Menurut Pierre L. Van den Berghe 
Beliau secara khusus tidak mendefinisikan mengenai masyarakat multikultural namun hanya mengungkapkan tentang karakteristik yang menjadi sifat-sifat masyarakat multikultural yaitu sebagai berikut.
  • Terjadi segmentasi ke dalam kelompok sub budaya yang saling berbeda.
  • Memiliki struktur yang terbagi ke dalam lembaga non komplementer.
  • Kurang mengembangkan konsensus di antara anggota terhadap nilai yang bersifat dasar.
  • Secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling tergantung secara ekonomi.
  • Adanya dominasi politik suatu kelompok atas kelompok lain.
b. Pengertian Masyarakat Multikultural Menurut Dr. Nasikun
Masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat yang menganut berbagai sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggota masyarakat kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai suatu keselutuhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan, atau bahkan kurang memiliki dasar-dasar utk saling memahami satu sama lain.
Masyarakat Indonesia yang Multikultural
Indonesia merupakan negara yang kaya, baik dalam bentuk kekayaan sumber daya alam atau kekayaan sumber daya sosial. Walaupun negara Indonesia mempunyai tingkat kemajemukan yang tinggi namun tetap kokoh sebagai suatu kesatuan, karena didasarkan pada semboyan Bhineka Tunggal Ika. Namun demikian, tidak berarti pada masyarakat Indonesia tidak terjadi gejolak-gejolak yang mengarah kepada pepecahan dalam segala bidang kehidupan. Kebhinekaan masyarakat Indonesia dapat dilihat dari dua cara yaitu.
a. Secara Horizontal (Diferensiasi)
1). Perbedaan Fisik atau ras
Penduduk Indonesia jika didasarkan pada perbedaan fisik atau rasnya, maka dapat di kelompokkan menjadi:
  • Golongan orang Mongoloid. Bertempat tinggal di sebagian besar kepulauan Indonesia, khususnya di kepulauan Sunda besar (kawasan Indonesia Barat), dgn ciri-ciri rambut ikal dan lurus, muka agak bulat, kulit putih hingga sawo matang.
  • Golongan orang Papua Melanosoid. Merupakan golongan penduduk yang bermukim di pulau Papua, Kei dan Aru. Mereka mempunyai cirri fisik seperti rambut keriting, bibir tebal, dan berkulit hitam.
  • Golongan Vedoid, antara lain orang-orang Kubu, Sakai, Mentawai, Enggano,dan Tomura dgn ciri-ciri fisik bertubuh relative kecil, kulit sawo matang,dan rambut berombak.
2). Perbedaan suku bangsa
Negara Indonesia adalah negara yang kaya akan suku bangsa, ada sekitar 300an suku bangsa dgn jumlah setiap sukunya beragam, mulai dari beberapa ratus orang saja hingga puluhan juta orang. Suku yang mempunyai populasi terbanyak antara lain suku Jawa, Sunda, Dayak, Batak, Minang, Melayu, Aceh, Manado, dan Makasar. Selain itu, terdapat pula suku bangsa yang jumlah penduduknya hanya sedikit, misalnya suku Nias, Kubu, Mentawai,Asmat dan suku lainnya.
3). Perbedaan agama
Kepercayaan aninisme dan dinanisme adalah kepercayaan yang paling tua dan berkembang sejak zaman prasejarah, sebelum bangsa Indonesia mengenal tulisan. Agama Hindu dan Budha masuk ke Indonesia dari daratan India sekitar pada abad ke 5 SM, bukti-bukti tertulisnya ditemukan di kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) dan kerajaan Tarumanegara (Bogor). Agama Islam datang dari Arab Saudi melalui India Selatan di abad ke-7. Agama Islam menjadi agama terbesar dan dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Orang Eropa datang ke Indonesia pada awal abad ke-19 dgn membawa agama Nasrani yang kemudian hari juga banyak dianut oleh penduduk Indonesia.
4). Perbedaan jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin adalah sesuatu yang sangat alami. Perbedaan seperti ini tidak menunjukkan adanya tingkatan atau perbedaan kedudukan dalam sistem sosial. Anggapan superior bagi laki-laki dan inferior bagi perempuan adalah tidak benar. Masing-masing mempunyai peran dan tanggung jawab yang saling membutuhkan dan melengkapi.
b. Secara Vertikal (Stratifikasi)
Perbedaan vertikal yaitu perbedaan individu atau kelompok dalam tingkatan-tingkatan secara hierarki, atau perbedaan dalam kelas-kelas yang berbeda tingkatan dalam suatu sistem sosial. Perbedaan secara vertikal ini dikenal dgn nama stratifikasi. Keanekaragaman dalam tingkat atau kelas sosial ini disebabkan oleh adanya sifat yang menghargai atau menjunjung tinggi sesuatu baik berkenaan dgn barang-barang kebutuhan, kekuasaan dalam masyarakat, keturunan, dan pendidikan tertentu yang dapat dicapai seseorang.
Faktor Penyebab Masyarakat Multikultural
a. Kondisi geografis
Perbedaan kondisi geografis telah melahirkan berbagai suku bangsa, terutama yang berkaitan dgn pola kegiatan ekonomi dan perwujudan kebudayaan yang dihasilkan utk mendukung kegiatan ekonomi  misalnya  nelayan,  pertanian,  kehutanan, perdagaangan dan lain-lain. Relief yang tajam dipisahkan oleh laut dan selat tentu akan menyebabkan terisolasinya kelompok masyarakat yang telah mencapai suatu temapat.
b. Latar belakang historis
Nenek moyang dari bangsa Indonesia adalah berasal dari Yunan, yaitu suatu wilayah di Cina bagian selatan yang pindah ke pulau-pulau di Nusantara. Perpindahan tersebut terjadi secara bertahap dalam waktu dan jalur yang berbeda. Ada kelompok mengambil jalur barat melalui selat Malaka menuju pulau Sumatera dan Jawa. Sedangkan kelompok lainnya mengambil jalan ke arah timur, yaitu melalui kepulauan Formosa atau Taiwan, di sebelah selatan Taiwan, di sebelah selatan Jepang, menuju Filifina dan kemudian meneruskan perjalanan ke Kalimantan. Dari Kalimantan ada yang pindah ke Jawa dan sebagian lagi ke pulau Sulawesi.
c. Keterbukaan terhadap kebudayaan luar
Bangsa Indonesia adalah contoh bangsa yang terbuka. Hal ini dapat dilihat dari besarnya pengaruh asing dalam membentuk keanekaragaman masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Pengaruh asing yang pertama mewarnai sejarah kebudayaan Indonesia adalah ketika orang-orang India, Cina, dan Arab mendatangi wilayah Indonesia disusul oleh kedatangan bangsa Eropa. Bangsa-bangsa tersebut datang dgn membawa kebudayaan yang beragam.
Masalah yang Timbul Akibat Adanya Masyarakat Multikultural
a. Konflik Berdasarkan tingkatannya
  • Tingkat ideologi atau gagasan
  • Tingkat politik
Berdasarkan jenisnya
1). Rasial
2). Antar suku bangsa
3). Antar agama.
b. Integrasi
Berasal dari kata “integration” yang berarti kesempurnaan, atau keseluruhan. Maurice Duverger mendefinisikan sebagai dibangunnya interdependensi (kesalingtergantungan) yang lebih rapat antara anggota-anggota dalam masyarakat.
c. Disintegrasi 
Disebut juga disorganisasi yaitu merupakan suatu keadaan yang mana tidak ada keserasian pada bagian-bagian dari suatu kesatuan. Sbagai contoh : Kasus GAM, RMS, Papua dan lain-lain. Gejala awal disintegrasi tidak ada persamaan persepsi, norma tidak berfungsi dgn baik, terjadi pertentangan antar norma, pemberian sanksi tidak konsekuen, tindakan masyarakat tidak sesuai dgn norma.
d. Reintegrasi 
Atau “reorganisasi” yaitu suatu proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai baru agar serasi dgn lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah mengalami perubahan.
Alternatif Pemecahan Masalah yang Ditimbulkan Oleh Masyarakat Multikultural 
a. Asimilasi
Proses di mana seseorang meninggalkan tradisi budaya mereka sendiri utk menjadi dari bagian dari budaya yang berbeda. Kelompok etnis yang berbeda secara bertahap dapat mengadopsi budaya dan nilai-nilai yang ada dalam kelompok besar, sehingga setelah beberapa generasi akan menjadi bagian dari masyarakat tersebut.
b. Self-regregation 
Suatu kelompok etnis yang mengasingkan diri dari dari kebudayaan mayoritas, sehingga interaksi antar kelompok sedikit sekali, atau tidak terjadi. Sehingga potensi konflik menjadi kecil.
c. Integrasi 
Adalah keadaan ketika kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap konformistis, terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, tetapi dgn tetap mempertahankan kebudayaan mereka sendiri.
d. Pluralisme 
Suatu masyarakat yang mana kelompok-kelompok sub ordinat tidak harus mengorbankan gaya hidup dan tradisi mereka, bahkan kebudayaan kelompok-kelompok tersebut memiliki pengaruh terhadap kebudayaan masyarakat secara keseluruhan.
Sikap Kritis, Toleransi, dan Empati Sosial
Terhadap hubungan keanekaragaman dan perubahan budaya dalam menghadapi hubungan keanekaragaman dan perubahan kebudayaan di masyarakat, dibutuhkan sikap yang kritis, disertai toleransi dan empati sosial terhadap perbedaan-perbedaan tersebut.
Di bawah ini adalah sikap kritis yang harus dikembangkan dalam masyarakat yang beranekaragam, antara lain :
  • Meninggalkan sikap primodialisme, terutama yang menjurus pada sikap etnosentrisme dan ekstrimisme (berlebih-lebihan).
  • Mengembangkan sikap saling menghargai (toleransi) terhadap nilai-nilai dan norma sosial yang berbeda-beda dari angota masyarakat yang kita temui, tidak mementingkan kelompok, ras, etnik, atau kelompok agamanya sendiri dalam menyelenggarakan tugas-tugasnya.
  • Mengembangkan rasa nasionalisme terutama melalui penghayatan wawasan berbangsa dan bernegara namun menghindarkan sikap chauvimisme yang akan mengarah pada sikap ekstrim dan menutup diri akan perbedaan kepentingan dgn masyarakat yang berada di negara-negara lain.
  • Menegakkan supremasi hukum, artinya bahwa suatu peraturan formal  harus berlaku pada semua warga negara tanpa memandang kedudukan sosial, ras, etnik dan agama yang mereka anut.
  • Mengembangkan kesadaran sosial dan menyadari peranan bagi setiap individu terutama para pemegang kekuasaan dan penyelenggara kenegaraan secara formal.
  • Menyelesaikan semua konflik dgn cara yang akomodatif melalui mediasi, kompromi, dan adjudikasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s