Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial dan Perkembangan Kognitif Siswa

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Jean Piaget (1886-1980) manusia tumbuh, beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, perkembangan kepribadian, perkembangan sosio-emosional, dan perkembangan kognitif. Khususnya perkembangan kognitif sebagian besar bergangtung kepada seberapa jauh anak mampu memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya.

Pada dasarnya setiap siswa pasti akan mengalami perkembangan kognitif melalui pengalaman-pengalaman untuk memperoleh pengetahuan yang sebelumya tidak diketahui. Namun suatu pengetahuan baru dapat dipelajari seseorang apabila tingkat kemampuan kognitif dan efektinya memungkinkan ia mengakomodasi apa yang dipelajarinya. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa sesuatu itu baru dapat dipelajari seseorang apabila perbedaan jenjang antara apa yang sudah dimiliki dengan apa yang akan dipelajari tidak terlalu jauh. Apabila perbedaan antara apa yang sudah dimiliki dengan apa yang akan dipelajari sedemikian jauh, maka apa yang akan dipelajari seseorang tidak akan memberi makna kepada dirinya melainkan akan menjadi beban dan bahan ingatan semata.dan pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berhasil mengembangkan potensi seorang siswa secara maksimum.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

  1. Bagaimana mengembangkan potensi siswa dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial secara maksimum?
  2. Mengembangkan cara berfikir dan emosi siswa agar mampu berfikir secara ilmiah dalam mempelajari keilmuan?

 

1.3 Tujuan

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk:

  1. Menjelaskan apa itu  berpikir abstrak
  2. Mengetahui bahwa pentingnya mempelajari disiplin ilmu ilmu sosial

1.4 Metode Penulisan

Dalam penyusunan makalah ini, kami menggunakan metode studi pustaka, yaitu dengan mencari literatur yang relevan dengan bahasan yang kami sajikan dan mencari referensi lain dari internet.

BAB 2

ISI

Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial dan Perkembangan Kognitif Siswa

2.1 Berfikir Abstrak dalm ilmu-ilmu sosial

Setiap disiplin ilmu selalu berhubungan dengan kemampuan berfikir abstrak. Ilmu-ilmu alam yang objek penelitiannya paling konkret dan langsung dapat diamati (dengan atau tanpa alat) selalu berhubungan dengan kemampuan berfikir abstrak. Dan bagi ilmu-ilmu sosial yang objek penelitiannya sering kali tidak selalu dapat diamati seperti layaknya ilmu-ilmu alam, kemampuan berfikir abstrak tersebut merupakan sesuatu yang tak dapat dielakan. Dengan kemampuan berfikir abstrak itulah ilmuan sosial memberikan makna dan menjelaskan dari apa yang diamati dalam kegiatan masyarakat. Kemampuan berpikir merupakan sekumpulan ketrampilan yang kompleks yang dapat dilatih sejak usia dini. Berpikir menurut Suryabrata merupakan proses aktif dinamis yang bersifat ideasional dalam rangka pembentukan pengertian, pembentukan pendapat, dan penarikan kesimpulan ( Suryabrata, 1993:54). Sedangkan menurut Conny, berpikir merupakan proses mental yang terjadi karena berfungsinya otak dalam rangka mencari jawaban atas suatu persoalan, menemukan ide-ide, mencari pengetahuan, atau sekedar untuk berimajinasi. Proses berpikir terjadi oleh berfungsinya otak manusia, karena otak manusia merupakan pusat kesadaran, pusat berpikir, perilaku, dan emosi manusia mencerminkan keseluruhan dirinya, kebudayaan, kejiwaan, bahasa dan ingatannya (Conny R. Semiwan, 1997:50).
Berpikir abstrak merupakan salah satu jenis kemampuan yang merupakan atribut Inteligensi. Menurut Termen seperti yang dikutip oleh Winkel dan Aiken menjelaskan inteligensi ialah kemampuan berpikir abstrak ( Winkel, 1996:139). Kemampuan berpikir abstrak ini adalah suatu aspek yang penting dari inteligensi, tetapi bukan satu-satunya. Aspek yang ditekankan dalam kemampuan berpikir abstrak adalah penggunaan efektif dari konsep-konsep serta simbol-simbol dalam menghadapi berbagai situasi khusus dalam menyelesaikan sebuah problem.

Kemampuan berpikir abstrak tidak terlepas dari pengetahuan tentang konsep, karena berpikir memerlukan kemampuan untuk membayangkan atau menggambarkan benda dan peristiwa yang secara fisik tidak selalu ada. Orang yang memiliki kemampuan berpikir abstrak baik akan dapat mudah memahami konsep-konsep abstrak dengan baik.

Dalam kajiannya disiplin ilmu-ilmu sosial selalu berhubungan dengan kehidupan sosial manusia. Sampai tingkat tertentu, kehidupan sosial manusia merupakan sesuatu kehidupan yang bebas dari pengaruh luar dan dapat dikatakan sebagai kehidupan yang beragam serta sangat kreatif. Kehidupan sosial adalah kehidupan yang jauh lebih tinggi dari kehidupan biotik untuk hewan dan tumbuhan. Jika pola kehidupan biotik sangat berpengaruh oleh kehidupan turun temurun, lingkungan alam dan instink, pola kehidupan sosial dapat dikatakan mencoba berbuat lain dari apa yang sudah dilakukan turun temurun, mencoba untuk menguasai lingkungan alam, serta dipengaruhi lebih banyak oleh intelegensi dan perasaan dibandingkan instink.

Kehidupan sosial manusia tidak mungkin terlepas dari kemampuan anggota masyarakat dalam berfikir abstrak. Benda-benda serta perlengkapan lain yang ada semuanya tidak dapat dilepaskan dari pemikiran abstrak yang ada. Adanya benda-benda teknologis disekitar kehidupan manusia bukan dihasilkan oleh tuntutan teknolohi tetapi dihasilkan berdasarkan tuntutan kehidupan manusia. Benda-benda teknolohis tersebut adalha alat untuk memberi kemudahan bagi kehidupan manusia; sama halnya dengan perangkat kehidupan budaya dan pranata sosial. Oleh karena itu seseorang yang belajar disiplin ilmu-ilmu sosial tidak hanya memperhatikan benda atau pranata sosoial-budaya berdasarkan bentuk fisik yang terlihat atau yang terjadi, mereka dituntut untuk berfikir abstrak sehingga mampu memehami da menjelaskan apa yana ada dibalik fenomena yang diamatinya, dan memikirkan berbagai alternatif yang diperlakukan.

Selain apa yang dapat terlihat dengan nyata, gejala/fenomena yang dikaji ilmu sosial sering tidak mungkin diketahui denga panca indra meskipun memakai alat bantu. Fenomena kehidupan yang dikembangkan dalam konsep-konsep seperti rasa cinta tanah air, semangat nasionalisme, kekuasaan, kekuatan, rasa kecewa, dan sebagainya adalah fenomena yang abstrak. Kalau seorang ahli fisika dapat melihat bentuk nyata ion, neutron, proton dan renik-renik jasad yang terkecil pun dengan bantuan elektronik-mikroskop, para ahli ilmu-ilmu sosial hanya dapat melihat bagian nyata untuk dihubungkan menjadi suatu kon sep atas dasar pemikiran yang abstrak. Para ahli sosial harus menarik kesimpulan-kesimpulan abstrak dari sesuatu yang nyata.

Mereka yang dinamakan ilmuan sosial tidak berada dalam posisi dimana gejala nyata yang diamati langsung memiliki makna dan dapat dikembangkan langsung menjadi konsep. Konsep yang dikembangkan dalam disiplin ilmu-ilmu sosial selalu bersifat abstrak. Hal ini yang menandai keabstrakan berfikir dalam disiplin ilmu-ilmu sosial adalah jarak antara mereka yang belajar disiplin ilmu-ilmu sosial dengan fenomena yang dipelajari.

Perbedaan jarak antara yang mempelajari disiplin ilmu-ilmu sosial dengan fenomena yang dipelajari dapat terjadi karena unsur waktu tetapi dapat terjadi juga karena unsur geografis. Mereka yang belajar disiplin ilmu-ilmu sosial belajar tentang suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau yang seringkali tidak memiliki hubungan langsung antara waktu sekarang dan sudah tidak mereka kenali. Demikian pula dengan mereka yang belajar sesuatu yang di luar jangkauan geografisnya, mereka harus mempelajari sistem sosial di tempat lain. Tapi, tanpa adanya kemampuan berpikir abstrak yang tinggi dan imaginatif tidak mungkin mereka dapat memahami sepenuhnya apa yang dipelajari. Oleh karena itu, berpikir abstrak menjadi hal mutlak yang harus dimiliki siswa dalam belajar disiplin ilmu-ilmu sosial.

Kebersamaan informasi yang dimiliki antara satu fakta dengan fakta lainnya dapat saja terjadi. Karena jumlah informasi yang dimiliki akan selalu terbatas dan tidak mungkin sama seluruhnya. Meskipun demikian harus disadari bahwa suatu fakta tidak selalu memiliki informasi yang sama dengan fakta lainnya walaupun masih berkenaan dengan satu kegiatan manusia yang sama.

Berdasarkan fakta yang sudah terkumpul maka dirumuskan suatu konsep. Dalam merumuskan suatu konsep dicari kebersamaan yang dimiliki antara satu fakta dengan fakta lainnya. Upaya dalam mencari kebersamaan tersebut memerlukan kemampuan berpikir abstrak.kemampuan berpikir abstrak yang diminta dalam merumuskan suatu konsep akan lebih tinggi dibandingkan ketika akan merumuskan fakta.

Kemampuan berpikir abstrak yang lebih tinggi dituntut dalam merumuskan generalisasi dan teori. Dalam diagram dinyatakan secara sederhana bahwa generalisasi dikembangkan dari konsep-konsep. Dalam prosedur yang diharapkan generalisasi baru dapat dikembangkan setelah ada penelitian. Sebelum adanya penelitian maka generalisasi tersebut  baru dapat dikatakan sebagai sebuah hipotesis ( jawaban sementara ).

Dalam merumuskan generalisasi menjadi konsep dan kemudian merumuskan informasi yang diperlukan untuk konsep yang diteliti terjadi proses berpikir yang abstrak. Ia memerlukan kemampuan berpikir  menterjemahkan sesuatu yang umum menjadi sesuatu yang khusus dan ini dinamakan dengan proses berpikir deduktif ( Nickerson, 1985 : 10 ).

Perpikir abstrak juga diperlukan ketika menjalani proses kausalita. ( Longino, 1970, Bryan, 1985 ; O’Hear, 1989 ). Kausalita digunakan pada saat suatu hipotesis dirumuskan. Dalam pandangan keilmuan tertentu keberadaan hukum kausalita yang demikian dipertanyakan tetapi pengambangan hipotesis tetap memerlukan pertanyaan mengenai sifat hubungan konsep-konsep yang ada. Demikian dengan pengembangan teori yang merupakan gambaran mengenai terhubungnya antara generalisasi dan konsep.

Walaupun dalam posisi yang berbeda, seseorang yang mempelajari ilmu-ilmu sosial tidak mungkin dapat memahami apalagi menerapkan dan menganalisis konsep, generalisasi, teori ilmu-ilmu sosial yang dimiliki. Sesuatu yang abstrak baru dapat dipahami dengan baik melalui kemampuan berpikir abstrak juga.

Substansif-substansi lain diperlukan dan keterhubungan antara satu dengan lainnya membentuk fakta yang kemudian memiliki rangkaian hubungan tertentu untuk membentuk konsep transportasi. Jadi proses substansi tidak diberlakukan begitu saja tetapi dalam suatu kebersamaan umum yang dapat dilihat melalui kemampuan berpikir abstrak

2.2 Teori Piaget

Teori ini dikembangkan oleh seorang psikolog Swiss yang bernama Jean Piaget. Teori Piaget menyatakan bahwa proses belajar terjadi apabila terjadi proses pengolahan data yang aktif dipihak yang belajar. Yang meruupakan aktivitas lanjutan dari kegiatan mencari informasi dan dilanjutkan dan dilanjutkan dengan kegiatan penemuan-penemuan. Berdasarkan pandangan ini siswa dianggap sebagai subjek belajar aktif menimbulkan stimulasi bagi dirinya.

Untuk itu Piaget mengatakan bahwa apa yang sudah ada pada diri seseoran adalah dasar untuk menerima yang baru.  Apa yang sudah ada pada diri seseorang itu antara lain adalah kapasitas dasar kemampuan intelektualnya.

Dalam proses perubahan skema terjadi proses awal berkenaan tentang apa yang disebut Piaget dengan istilah asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penyesuaian informasi yang akan diterima sehingga menjadi sesuatu yang dikenal oleh siswa. Proses kemudian adalah kemampuan informasi yang sudah diubah dalam skema yang sudah ada. Untuk penerapan tersebut skema perlu  menyesuaikan diri dan ini yang dinamakan dengan proses akomodasi. Dengan adanya proses akomodasi informasi yang baru diterima menjadi bagian yang utuh dari skema yang lama maka skema lama akan berkembang menjadi sebuah skema baru yang siap sebagai dasar baru untuk menerima informasi baru. Skema dipengaruhi oleh kematangan bio-psikologis itu memiliki sifat universal.

Menurut Piaget tingkat perkembangan itu adalah sensorimotor tingkat preoparasional , tingkat operasi konkret dan tingkat operasi normal. Pada tingkat sensorimotor ( 0 – 18 bulan ) seorang anak mengembangkan kesadarannya atas dunia luar. Pada tingkat konkret ( 18 bulan  –  6 tahun ) mulai terjadi perkembangan skema kognitf yang lebih jelas. Pada tingkatan operasi konkret ( 7 – 12 tahun ) mereka mulai mengembangkan kemampuan berpikir beraneka. Mereka sudah dapat membedakan mana benda  atau kondisi yang tidak berubah dan mana yang berubah. Pada tahapan ini struktur kognitif siswa sudah rwlatif stabil.

Kemampuan mengelompokkan sudah berkembang pada masa ini walaupun masih terbatas terhadap hal-hal yang konkret. Sehingga kemampuan analisis tingkat awal sudah dapat dilakukan siswa. Meskipun demikian kemampuan berpikir abstrak belum sepenuhnya berkembang pada masa operasi konkret ini. Kemampuan berpikir yang formal dan abstrak sepenuhnya hanya dapat berkembang.

Kemampuan siswa smp dan sma untuk berpikir ilmiah abstrak itu tidak menunjukan bahwa mereka sudah dapat mempelajari suatu konsep atau pikran keilmuan yang dikembangkan untuk mereka yang belajar di perguruan tinggi. Guru masih harus menyederhanakan tingkat abstaksi suatu konsep atau pikiran keilmuan sesuai pengalaman yang dimiliki seseorang.
2.3 Teori Bruner

Menurut Bruner ada tiga tahapan berpikir yang dialami seseorang yaitu enactive, iconic, dan symbolic ( Good dan Brophy, 1977; Bruner, 1980 ). Enactive terjadi pada masa kanak-kanak. Apa yang dipelajari, dikenal, atau pun diketahui sebatas dalam ingatan. Kemampuan memproses informasi yang belum terjadi. Demikian pula dengan kemapuan berpikir yang lebih jauh dari apa yang terkandung dalam informasi tidak dapat dilakukan. Artinya, seseorang berpikir masih terbataspada ruang, waktu, dan informasi yang diterimanya sebagai adanya. Pada tahap inconic anak sudah dapat mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih jauh. Tidak lagi terbatas oleh ruang, waktu dan apa yang tersaji secara eksplisit dalam informasi yang diterima.

Tingkat symbolic adalah tingkat operasi formal pada jenjang perkembangan Piaget. Pada tingkat symbolic ini siswa sudah mampu berpikir abstrak. Simbol-simbol bahasa, matematika, atau pun disiplin ilmu lainnya sudah dapat mereka fahami sebagaimana harusnya.

Anak pada usia symbolic adalah usia smp dan diatasnya. Artinya, tingkat berpikir symbolic ini berembang terus seperti hal nya dengan tingkat berpikir operasi formal. Oleh karena itu, dalam tingkat ini siswa sudah dapat beragumentasi secara hipotesisi akademik. Kemampuan siswa pada usia SMP dan SMA ini sudah dapat diajak untuk berfikir berdasarkan argumentatif: apabila ia memberikan pendapat atau saran mereka sudah dapat diminta untuk memberikan alasan. Mereka juga sudah dapat diminta untuk selalu memberikan bukti terhadap alasan yang digunakan sebagai landasan pendapat atau saran. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Bruner lebih maju dari Piaget karena Bruner lebih banyak membicarakan implikasi pendidikan dari teorinya dibnading Piaget.

Dalam mengembangkan implikasi teorinya dalam pendidikan , Bruner menulis buku berjudul The Process of Education. Dalam buku tersebut Bruner ( 1960:33 ) mengatakan bahwa “tugas mengajar suatu mata pelajaran kepada anak didik pada usia mana pun adalah memperkenalakan struktur keilmuan mata pelajaran tersebut sesuai dengan cara anak didik berpikir”.

Menurut Bruner, dengan mengajarkan disiplin ilmu, terutama dengan mengajarkan struktur dari disiplin ilmu tersebut, maka akan terjadi proses pendidikan yang dinamakan specific transfer of training ( latihan pemindahan yang khusus ) dan non-specific transfer ( latihan pemindahan yang tidak khusus ). Latihan pengembangan yang khusus mengembangkan kemampuan yang dapat digunakan hanya dalam situasi-situasi khusus. Latihan pemindahan yang tidak khusus mengembangkan keterampilan yang dapat digunakan di berbagai situasi dan kondisi. Proses pendidikan yang tidak khusus lebih penting dan merupakan the heart of the educational process ( jantung dari proses pendidikan ).

Selanjutnya , Bruner ( 1960:23-26 ) mengatakan bahwa ada empat keuntungan pengajaran disiplin ilmu. Keempat keuntungan tersebut adalah:

1.  Pemahaman terhadap struktur keilmuan akan menyebabkan bahan pelajaran menjadi semakin komprehensif. Artinya, apabila siswa memahami struktur suatu disiplin ilmu maka ia memiliki kemammpuan untuk melihat masalah secara luas dan mendalam.

2. Penguasaan struktur suatu disiplin ilmu akan menyederhanakan cara menyimpan dan menggunakan ingatan ( memory ). Penyderhanaan itu terjadi karena yang disimpan dalm ingatan bukan semua rincian fakta yang tidak mempunyai arti tetapi garis besar yang satu sama lain membentuk hubungan dan memberi makna tertentu. Makna yang diberikan menjadikan informasi dapat disimpan lama. Pada waktu informasi itu diperlukan, mereka dapat pula dengan mudah dipanggil. Kenyataan seperti ini dengan pendapat Phenix ( 1956:138 ) yang menyatakan bahwa “pengetahuan bukanlah sekedar akumulasi dari informasi yang bebas dan terisolasi”.

3.    Penguasaan struktur disiplin ilmu merupakan jembatan bagi terciptanya transfer of training. Dengan demikian, penguasaan struktur disiplin ilmu tertentu akan memberikan dasar yang memudahkan siswa mempelajari disiplin ilmu lainnya.

4.    Dengan mempelajari struktur disiplin ilmu secara tetap, baik di SMP maupun di SMA maka sisiwa memeliki kesempatan untuk mengembangkan ketajaman dalam analisis sehingga mereka dapat merasakan perbedaan yang sifatnya tipis tapi prinsipil antara “pengetahuan dasar” dengan Pengetahuan yang lebih maju.

Keuntungan itu ditambah dengan kenyataan bahwa anak usia SMP dan SMA dapat diajar struktur disiplin ilmu. Burner beranggapan bahwa pengajaran disiplin ilmu-ilmu sosial dapat diberikan di kedua jenjang tersebut.

Dari apa yang di kemukakan Burner , jelas tergambar bahwa Bruner penganut esensialis dalam pendidikan. Meskipun demikian harus disadari bahwa posisi tersebut bukan berdasarkan keyakinan normatif sementara tapi didasarkan atass pemikiran kemampuan anak didik untuk menerima pedidikan suatu disiplin ilmu. Pandangan yang di anutnya, menggambarkan keduudukannya sebagai psikolog bukan sebagai pendidik.

Hasil penelitian yang dilakukan Raudanbush, Rowan, dan Yuk (1993) mendukung pendapat Burner. Ketiga peneliti ini mengemukakan bahwa pendidikan ilmu sosial tidak berkembang di bandingkan IPA dan Matematika. Penyababnya yaitu, Pendidikan IPA dan Matematika mengacu kepada struktur disiplin ilmu, sedangkan pendidikan ilmu-ilmu sosial tidak mengacu kepada struktur disiplin ilmu.

Dari pembahasan mengenai kedudukan berpikir dalam belajar ilmu-ilmu sosial jelas bahwa pendidkan disiplin ilmu-ilmu sosialharus didasarkan atas kemampuan berpikir abstrak yang tinggi. Hal ini disebabkan karena fenomena yang di teliti disiplin ilmu-ilmu sosial itu harus dikaji lebih lanjut dan lebih mendalam untuk disimpulkan dalam suatu kesimpulan yang abstrak. Selain itu juga, disiplin ilmu-ilmu sosial mempelajari kehidupan sosial manusia yang penuh dengan tindakan yang abstrak.

Dari apa yang telah dikemukakan dalam pembahasan teori Piaget dan Burner jelas terlihat bahwa pendidikan disiplin ilmu adalah sesuatu yang dapat dilakukan dan dibenarkan diilihat dari kemampuan siswa. Bersamaan dengankemampuan berpikir abstrak ini mereka sudah juga sudah mampu melakukan manipulasi atau pemrosesan informasi untuk membagun pemahaman, melakukan aplikasi, analisis, sintesis, atau pun evaluasi

Selanjutnya uraian dari kedua bagian tersebut menunjukan bahwa pengajaran disiplin ilmu yang lebih baik adalah mengajarkan pada anak didik mengenai struktur disiplin ilmu itu. Melalui pendidikan yang demikianmaka siswa terlatih untuk memanfaatkan apa yang sudah mereka kuasai untuk terus menerus mempelajari hal yang baru. Jadi dengan belajar struktur disiplin ilmu mereka akan mersakan belajar ilmu-ilmu sosial dan kemungkinanya ilmu-ilmu sosial tidak lagi menjadi beban.

BAB 3

Penutup

3.1 Kesimpulan

Kemampuan berpikir kompleks adalah seperangkat keterampilan yang dapat dilatih sejak usia dini. Thinking is an active process that is dynamic in the context of the formation of ideational meaning, forming an opinion, and conclusion. Berpikir adalah proses aktif yang dinamis dalam konteks pembentukan makna ideasional, membentuk pendapat, dan kesimpulan. Abstrak pikir merupakan salah satu jenis kecerdasan adalah kemampuan attribute.intelligence adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak. Abstrak Kemampuan Berpikir merupakan aspek penting dari kecerdasan, tetapi bukan satu-satunya.  Aspect emphasized in the ability to think abstractly is the effective use of the concepts and symbols in dealing with various special situations in solving a problem. Aspek ditekankan pada kemampuan untuk berpikir abstrak adalah penggunaan efektif konsep-konsep dan simbol-simbol dalam menghadapi berbagai situasi khusus dalam memecahkan masalah.

Dapat di tarik kesimpulan antara ilmu pendidikan dan ilmu pengetahuan terdapat hubungan yang sangat berkaitan. Orang yang melakukan ilmu pendidikan yang disebut sebagai “pendidik” akan sangat memerlukan ilmu pengetahuan dalam mana ia melakukan proses pendidikan, ia akan memerlukan :

1. Pengetahuan tentang dirinya sebagai pendidik terdapat ilmu pengetahuan yang akan di didikan kepada peserta didik .

2. Pengetahuan tentang tujuan dari pada ia melakuakn pendidikan itu sendiri

3. Pengetahuan tentang bagaimana kondisi peserta didiknya.

4. Pengetahuan tentang metode mendidik itu sendiri

Daftar Pustaka.

Ausabel, D.P dan Robinson, F.G:1969. School learning: An introduction to Educational Psychology. New  York: Holt,  Rineheart and Watson.

Bryan, C.G.A. 1985. Pisitivian in Social Theory and Research. New York: St. Martin’s Press

Gier , N.F. 1981. Wittgennstein and Phenomenology: A Comparative Study of The Later Wittgeinstein, Husserl, Heidegger, and Marleau-Ponty Albany: State University of New York

Heritage, J. 1984.  Garfinkel and Ethonometodology.  Canbridge. Polity Press.

Hilgard, E.R dan Bower, G.H 1977.  Theories ooff Learning. New Delhi: Prentice-Hall of India

Longino, H.E.1990.  Science as Social Knowledge: Values and Objectivity in Scintific inquiri.  Princeton University Press.

Nickerson, R.S.1985. The teaching of Thinking. New Jersey: Lawrence Erlbaum

O’Hear, A. 1989.  An Introduction  to The Philosophy of science Oxfor: Clarendon Press

Philips, D.C. 1987. Philosophy,  Science, and Social Inquiry: Contemporery Methodological controversies in Social Science and realated Applied Fields of Reaserc.  Oxford Pergamon Press.

Philips, D.C 1992. The social scientist’s Beastiary: A guide to Fabled Thereats to, and Defences of naturalistic Sosial Science, Oxford: Pergamon Press

Sigel,  I.E dan cocking , R.R 1977. Cognitive development from Childhood to Adolescence: A Contactivist persfective. New York: Holt, Rinehart and Winston

H.A.R. Tilaar, Prof. Dr. M.Sc. Ed., .Manajemen Pendidikan Nasional, PT. Remaja

Rosdakarya, Bandung, 1999.

Tim Dosen FIP – IKIP Malang, Dasar – Dasar Kependidikan, Usaha Nasional,

Surabaya, 1981

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s